ASAL USUL NAMA DESA MACANBANG

ASAL USUL NAMA DESA MACANBANG

Hallo Sobat MotoMideo Tulungagung !

Desa Macanbang terletak di Kecamatan Gondang, Kabupaten Tulungagung. Desa Macanbang memiliki berbagai versi cerita sejarah. Hal tersebut disebabkan oleh banyaknya sumber cerita yang kemudian dipercaya dan dijadikan pedoman orang-orang yang terdahulu di desa ini.



Dari berbagai cerita yang ada Tim Tulungagung Mening mengangkat salah satu cerita yang paling banyak dipercayai banyak orang, biasanya cerita ini disebut Desa Alas Semampir. Cerita ini melegenda dari sejak zaman dahulu hingga sekarang.

Legenda Desa Semampir menjadi Desa Macanbang ini dimulai dari dimana pada saat itu di desa ini orang-orangnya masih banyak yang percaya pada hal-hal tahayul. Sehingga peradaban orang-orang belum mengenal agama secara keseluruhan bahkan orang-orang yang hidup di desa ini masih mengandalkan hal-hal yang bersifat mistis. Misalnya untuk menjaga kewibawaan diri, banyak orang yang datang ke tempat pemujaan (punden). Selain itu apabila ada warga yang akan punya hajat juga membawa nasi tumpeng untuk meminta berkah keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Esa ke Masjid, ke Punden serta kirim doa berupa toyibah dan tahlil agar hajatan tersebut diberi barokah selamat dari awal hingga akhir hajatan.

Sejarah Alas Semampir tercatat tahun 1800. Pada Jaman purbakala kurang lebih 475 M. Tahun 1478 sampai dengan 1550 kerajaan demak lamanya 42 tahun. Kanjeng Sunan Ampel di Surabaya namanya Raden Rohmat. Anak Muritnya banyak sekali yang tujuannya mengembangkan agama Islam dari Alas Semampir hingga sampai Ludoyo. Pada waktu itu Ludoyo dipimpin oleh Kyai Garong yang memiliki ilmu kasekten manusia jadi harimau, anak muridnya juga banyak.

Suatu hari ketika Sunan Ngampel datang ke Ludoyo bersama kerabatnya. Setelah pertemuan tukar pikiran akhirnya pembesar Ludoyo dan Sunan Ngampel tidak bisa akur (bersatu). Akhirnya terjadi perbedaan pendapat sehingga menimulkan perang. Sunan Ngampel bersama rombongan kalah pada perang tersebut, kemudian kembali ke Surabaya.

Setelah sampai ke Surabaya Sunan Ngampel masuk sanggar pemujaan. Sunan Ngampel mendapatkan hasil berupa wangsit, supaya putrinya yang bernama Siti Nurimah dikawinkan dengan Sunan Kuning atau Muhammad Zaenal Abidin. Beliau adalah sepupu dari Sunan Kudus yang akan bisa mengalahkan musuh dari Ludoyo Blitar. Akhirnya Sunan Kuning dijadikan menantu oleh Sunan Ngampel. Sunan Kuning diberitahu bahwa mertuanya adalah musuh Ludoyo yang bernama Kyai Garong dan seluruh kerabatnya.

Selanjutnya Sunan Kuning bersama 4 orang kerabatnya mohon pamit pergi ke Ludoyo yang bertujuan untuk mengalahkan musuh mereka. Sesampainya Sunan Kuning bersama 4 kerabatnya berbicara tentang ilmu ilmiyah dan rogoiyah pri kawiyanan, Kyai Garong beserta kerabatnya dinyatakan kalah. Semuanya sudah menurut apa yang diperintahkan Sunan Kuning dan semuanya masuk agama Islam.

Pada suatu hari Sunan Kuning dan 4 kerabatnya beserta Kyai Garong dan semua kerabatnya meninjau ke Surabaya. Dalam perjalanan selama 2 hari 2 malam melalui hutan yang luas dan lebat. Ketika dihutan tersebut semua istirahat,pakaian dan barang – barang bawaan diletakkan ( disampirkan ) di pohon besar. Dari situlah  tempat ini dinamakan Alas Semampir.

Waktu istirahat Garong beserta kerabatnya usul karena dia punya kesenian Langen Bekso Aran Miosuman. Sebetulnya oleh Sunan Kuning tidak diijinkan, tapi lama – lama diijinkan juga. Waktu itu pembesar Ludoyo sudah punya niat jahat, sudah menyediakan minuman keras yang sudah dicampur racun supaya diminum oleh gustinya. Semuanya minum, termasuk Kanjeng Sunan. Semuanya merasakan pusing, tidak tahu jika minuman yang diminum bercampur racun. Sunan Kuning serta kerabatnya langsung mabuk, lalu Kyai Garong bersembunyi. Semua kerabat Sunan Kuning mengerumuni, Kanjeng Sunan Kuning merasa ditipu. Kanjeng Sunan memberi pesan kepada kerabat-kerabatnya, jika ia meninggal dunia agar dimakamkan ditempat ini dan dihormati dengan baik. Selain itu juga berpesan untuk memasang Song-song Cungkup di makamnya. Jika suatu saat tempat ini menjadi pedesaan, orang yang punya hajat tidak boleh menggunakan minuman keras dan badek tape, dan tidak boleh orang membasuh dikolamnya, maka dari itu diberi beteng di sekitar makam.

Selanjutnya 4 sahabat disuruh lapor ke Kudus, Ngampel langsung ke Surabaya yang menjaga makam Kyai Mercobo yang jadi harimau Merah ( Macanbang ) dan kyai Sarkani yang jadi Naga Gawang dari Lodoyo. Suatu hari ada orang yang datang dari Mataram yang bernama Juru Marimi sengaja mencari makam Sunan Kuning. Sampai disana terkejut ternyata makam tersebut ada yang jaga yaitu 2 ekor Harimau Merah ( Macan Abang ) dan Rogo Gedhe. Ternyata harimau tersebut bisa berbicara layaknya manusia. Dri kejadian itulah akhirnya tempat tersebut dinamakan Desa Macanbang.

Semoga artikel inibisa membantu Sobat MotoMideo untuk mendapatkan Info Tulungagung. terus ikuti Chanel Youtube MotoMideo Tulungagung agar tidak ketinggalan untuk Info Tulungagung Mening lainnya. Bersama MotoMideo Tulungagung Melihat Tulungagung Lebih Dekat.

0 Komentar