TRADISI TURUN TANAH BAGI MASYARAKAT JAWA

TRADISI TURUN TANAH BAGI MASYARAKAT JAWA

Hallo Sobat MotoMideo Tulungagung !

Tradisi Tedak Siten atau turun tanah merupakan upacara adat yang dilakukan masyarakat Jawa dengan pengharapan agar anak tumbuh dan berkembang menjadi sosok sukses dimasa depan. Di Tulungagung upacara adat ini biasa disebut dengan istilah "pitonan/mitoni".


Dalam hitungan Jawa Tedak Siten akan dilakukan ketika anak berusia 7 lapan. Dengan hitungan 1 lapan sama dengan 35 hari, Jadi ketika dilakukan upacara Teda Siten usia anak adalah 245 hari (7 x 35 = 245).

Upacara Tedak Siten dilakukan pada usia tersebut bukan tanpa alasan. Hal itu dilakukan karena pada usia tersebut anak sudah mulai bisa berdiri dan sudah mulai menginjakkan kaki di tanah.

Istilah Tedak Siten berasal dari kata "tedak" yang bearti melangkah dan kata "siten" berasal dari kata "siti" yang berarti tanah atau bumi. Jadi makna dari kata Tedak Siten yaitu "melangkah di bumi". Hal ini dimaksudkan sang anak pertama kali turun atau menginjakkan kakinya di bumi atau tanah.

Ada berbagai rangkaian dalam upacara Tedak Siten ini, semua saling berkaitan satu sama lain. 

Rangkaian upacara pertama anak akan dituntun untuk berjalan di jadah 7 wrana yang berbeda.  Warna jadah disusun dari warna gelap ke warna terang. Ini melambangkan bahwa di masa depan anak harus bisa melewati segala rintangan, mulai dari yang gelap hingga menuju ke yang terang.

Yang ke dua, anak dibimbing untuk menginjak tangga tebu. Tangga tebu ersebut terbuat dari tebu "Arjuna". Dalam bahasa Jawa tebu merupakan kependekan dari antebing kalbu yang bermakna keteguhan hati. Diharapkan kelak ketika dewasa sang anak anak akan berperilaku seperti Aejuna, yang merupakan sosok pejuang sejati.


Rangkaian upacara ke tiga yaitu anak akan diletakkan di tumpukan pasir. Anak akan "ceker-ceker" atau bermain pasir dengan kedua kakinya. Hal ini memiliki makna anak akan bekerja untuk memenuhi kebutuhannya kelak ketika dewasa.

Selanjutnya untuk rangkaian ke empat, anak akan dimasukkan ke kurungan ayam. Di dalam kurungan ayam telah disediakan berbagai macam mainan, buku, atau alat musik. Anak disuruh memilih salah satu dari barang tersebut. Barang yang dipilih akan menggambarkan potensi sang anak. Sebab dipercaya di usia tersebut anak masih memiliki naluri yang  kuat.

Rangkaian ke lima, sang ayah akan menyebarkan udi-udik yang berisi uang koin dan bunga serta beras kuning. Ini sebagai lambang dan pengharapan agar anak diberikan rizki yang berlimpah dan tetap dermawan.

Rangkaian upacara selanjutnya anak akan dimandikan dengan air yang diberi kembang setaman. Ini sebagai pengharapan agar anak  bisa membawa nama baik keluarga.

Untuk rangkaian upacara terakhir anak akan dipakaikan pakaian yang bagus dan bersih. Ini melambangkan agar anak memiliki kehidupan yang baik dan makmur serta bisa membahagiakan orangtuanya.

Mungkin setiap daerah akan memiliki sedikit perbedaan rangkaian upacara Tedak Siten. Namun terlepas dari itu, Tedak Siten memiliki makna dan tujuan serta pengharapan  yang baik untuk anak.

Semoga artikel ini bisa membantu Sobat MotoMideo untuk lebih mengenal Tulungagung. terus ikuti Chanel youtube MotoMideo Tulungagung, karena Bersama MotoMideo Tulungagung Melihat Tulungagung Lebih Dekat.

0 Komentar